Kami Siap Melayani Pemesanan Segala Jenis Pupuk Yang berkualitas Dan Berkadar Non Subsidi ke seluruh wilayah di indonesia, Untuk info lebih Lanjut Bisa hub. Alamat Di bawah ini:

Nama : Bpk. Indra
Alamat : Sidayu Gresik
No. Telp : 082391699911
e-mail : indralow1@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

Evaluasi Kesesuaian Lahan

Posted by Unknown On 10.27 | No comments
Evaluasi lahan adalah proses dalam menduga klas kesesuaian lahan untuk penggunaan tertentu, baik untuk pertanian maupun untuk kegunaan lainnya. Klas kesesuaian lahan suatu wilayah untuk suatu pengembangan pertanian pada dasarnya menentukan dan mencocokan antara sifat fisik lingkungan yang mencakup iklim, tanah, dan terrain (topografi, relief, batuan di permukaan dan di dalam penampang tanah, singkapan batuan, hidrologi, dan persyaratan tumbuh tanaman).

 Evaluasi Kesesuaian Lahan

Penggunaan dan pemanfaatan lahan yg optimal sesuai dengan daya dukungnya dapat dilakukan bila tersedia informasi mengenai kesesuaian lahan di masing-masing wilayah bersangkutan.

Pengertian Lahan
Lahan adalah bagian dari bentang alam (landscape) yang mencakup pengertian lingkungan fisik (iklim, topografi/relief, hidrologi, dan bahkan keadaan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya akan berpengaruh terhadap penggunaan lahan. Dalam survai dan pemetaan sumberdaya alam, bagian lahan yang satu dengan lainnya dibedakan perbedaan sifat-sifat iklim, landform, tanah dan atau hidrologi sehingga terbentuk satuan-satuan lahan. Untuk keperluan evaluasi lahan sifat fisik lingkungan dirinci ke dalam kualitas lahan, dan kualitas lahan biasanya terdiri dari satu  atau lebih karakteristik lahan (land characteristics)

Kualitas Lahan
Kualitas lahan adalah sifat-sifat atau atribut yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas mempunyai performance yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu. Kualitas lahan berperan positif apabila sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan. Sebaliknya, kualitas lahan bisa bersifat negatif bila keadaannya akan merugikan (berkendala) terhadap penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor pembatas. Kualitas lahan bisa berpengaruh terhadap lebih dari satu jenis penggunaan.

Evaluasi Lahan
Evaluasi lahan pada skala kecil (tinjau skala 1:250.000) dengan skala besar (tingkat detail skala 1 : 10.000) perlu dipertimbangkan jumlah dan macam kualitas, serta karakteristik lahan yang digunakan sebagai parameter. Menurut FAO (1983), kualitas lahan yang berpengaruh terhadap produksi dipengaruhi oleh beberapa sifat tanah di antaranya:
  1. Kelembaban
  2. Ketersediaan hara
  3. Ketersediaan oksigen di zona perakaran
  4. Media untuk perkembangan akar (sifat fisik dan morfologi tanah)
  5. Kondisi untuk pertumbuhan (tanah dan iklim)
  6. Salinitas dan alkalinitas
  7. Kemudahan diolah (sifat fisik tanah)
  8. Toksisitas (Al dan FeS )
  9. Resistensi terhadap erosi
  10. Bahaya banjir (frekuensi dan periode banjir)
  11. Temperatur
  12. Energi radiasi dan foto periode
  13. Bahaya unsur-unsur iklim terhadap pertumbuhan tanaman
  14. Kelembaban udara
  15. Periode kering untuk pemasakan tanaman
  16. Varietas tanaman dan hama penyakit

Sedangkan yang menentukan dan berpengaruh terhadap manajemen dan masukan yang diperlukan adalah:
  1. Tanaman berpengaruh terhadap mekanisasi, dan atau pengelolaan lahan secara praktis (teras, alley cropping dsb), konstruksi dan pemeliharaan jalan penghubung.
  2. Ukuran dari unit potensial atau blok area/lahan pertanian.
  3. Lokasi dalam hubungannya untuk persediaan sarana produksi (input), dan pemasaran hasil (aspek ekonomi)

Karakteristik Lahan
Karakteristik lahan adalah sifat lahan yang dapat diukur atau diestimasi (ex. Slope, CH, tekstur, kapasitas air tersedia, kedalaman efektif dsb.). Setiap peta tanah yang dihasilkan dari survei sumber daya lahan, karakteristiknya dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik lingkungan dan tanahnya  yang merupakan interpretasi dan evaluasi lahan bagi komoditas tertentu.

Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluiasi lahan biasanya mempunyai interaksi satu sama lain. (misalnya ketersediaan air yang berkaitan dengan bulan kering dan CH rata-rata tahunan; tetapi air dapat diserap akar. Penentuan nilai karakteristik lahan yang berhubungan dengan sifat tanah disesuaikan dengan sifat tanaman yang dievaluasi. Untuk kualitas retensi hara, karena sifatnya mudah diatasi tidak merupakan pembatas utama, sehingga hasil penilaian tidak akan menjatuhkan pada kelas N (tidak sesuai). 

Kesesuaian Lahan dan Tipe Penggunaannya
Kesesuaian Lahan (land suitability) adalah kecocokan lahan untuk penggunaan tertentu (contohnya lahan sesuai untuk irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau semusim.
Tipe Penggunaan lahan (land utilization type) adalah jenis-jenis penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih detail karena menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. 

Jumat, 19 Juli 2013

Pupuk NP adalah salah satu pupuk majemuk yang mengandung dua unsur hara makro berupa nitrogen dan posfor. Pupuk ini dapat dibuat sendiri dengan mencampurkan pupuk nitrogen dan pupuk posfor atau juga dapat diperoleh dengan membeli beberapa jenis pupuk NP yang memang sudah banyak tersedia di pasaran. Jenis-jenis pupuk NP tersebut antara lain pupuk Diamonium-fosfat (DAP), pupuk Amafos, pupuk Supertikfos, dan pupuk leunafos.

Pupuk Diamonium-Fosfat (DAP)
Pupuk Diamonium-Fosfat (DAP) adalah salah satu pupuk majemuk NP yang saat ini paling banyak diminati oleh kalangan petani Indonesia. Pupuk ini sering digunakan sebagai pupuk susulan untuk menanggulangi masalah ketidakmerataan pemberian pupuk di lahan budidaya. Pupuk yang diproduksi oleh PT Pupuk Sriwijaya ini memiliki kandungan hara Nitrogen dan Posfor yang cukup besar, yakni N sebesar 18% dan P2O5 sebesar 46%.  Sifat pupuk Diamonium-Fosfat (DAP) bersifat mudah larut dalam air dan bereaksi netral pada tanah.

Pupuk Amafos
Pupuk Amafos adalah pupuk majemuk NP yang dibuat dari bahan utama berupa monoamonium-fosfat. Bentuk pupuk amafor berupa granul (butiran) dengan warna abu-abu muda. Pupuk amafos di pasaran dapat dijumpai dalam 2 bentuk yakni Amafos A yang mengandung hara N sebesar 11% dan P2O5 sebesar 48% (lazim disebut sebagai pupuk NP 11-48-0), serta Amafos B yang mengandung hara N sebesar 16,5% dan hara P2O5 sebesar 20% (lazim disebut sebagai pupuk NP 16,5-20-0). Kedua jenis pupuk ini bersifar mudah larut di dalam air dan tidak higroskopis. Pupuk Amafos dapat digunakan sebagai pengganti pupuk ZA dan DS karena kandungan haranya yang hampir sama.

Pupuk Supertikfos
Pupuk Supertikfos adalah pupuk majemuk NP yang juga dikenal dengan sebutan SS.  Pupuk ini memiliki kandungan hara yang hampir sama dengan pupuk Amafos B.

Pupuk Leunafos
Pupuk Leunafos adalah pupuk majemuk NP yang juga dikenal dengan nama diamonium-fosfat-sulfat. Pupuk ini memiliki kandungan hara N sebesar 20% dan kandungan hara P2O5 sebesar 20%. Pupuk ini bersifat mudah larut dalam air.

Rabu, 17 Juli 2013

Kahat Nitrogen pada Tanaman Kedelai

Posted by Unknown On 15.50 | No comments
Nitrogen adalah komponen utama penyusun protein (asam amino), enzim, klorofil, enzim, dan vitamin pada tanaman. Nitrogen oleh tanaman diserap dalam bentuk nitrit (NH3) dan Amonium (NH4). Nitrogen merupakan unsur yang mudah ditranslokasikan (mobile) ke seluruh bagian tubuh tanaman. Oleh karena itu gejala kekahatan nitrogen akan nampak pada daun-daun tua. Kekahatan nitrogen pada tanaman kedelai muda, menunjukan gejala daun berwarna hijau pucat dan berangsur-angsur menjadi kuning pucat pada kondisi kekahatan yang berat. Sedangkan pada tanaman kedelai tua, kekahatan Nitrogen akan menunjukan gejala berupa menguningnya daun tanaman bagian bawah dan pada keadaan kekahatan yang parah, daun-daun tersebut kemudian akan gugur.

Nitrogen adalah komponen utama penyusun protein (asam amino), enzim, klorofil, enzim, dan vitamin pada tanaman.

Secara umum, kahat nitrogen menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat dan kerdil, batang tanaman menjadi berwarna kemerah-merahan, perkembangan polong kedelai terhambat, daun menguning dan berdinding tebal sehingga daun tersebut menjadi kasar, keras, dan berserat.

Kekahatan nitrogen sangat sering terjadi umumnya pada budidaya kedelai di lahan yang memiliki tanah bertekstur pasir dan tanah-tanah yang memiliki derajat kemasaman (pH) rendah. Pada tanah-tanah yang demikian, aktivitas mikroorganisme tanah terutama mikroorganisme yang berfungsi sebagai penambat nitrogen menjadi terhambat. Karena perlu diketahui bahwa tanaman kedelai mampu memfiksasi nitrogen dari udara sebanyak 46 kg N per hektar. Jumlah penambatan nitrogen dari udara tersebut telah mencukupi ½ kebutuhan nitrohen selama hidupnya. Penambatan nitrogen dari udara dibantu oleh adanya bakteri rhizobium pada bintil akar tanaman kedelai. Pada lahan-lahan yang sebelumnya pernah ditanami kedelai, umumnya memiliki populasi rhizobium alami yang tinggi.

Pada tanah-tanah yang memiliki kandungan N-total sebanyak < 0,1%, tanaman kedelai harus dipupuk dengan dosis antara 23 sd 35 kg N tiap hektarnya. Pemupukan tersebut lebih diprioritaskan pada saat tanaman masih dalam fase vegetatif (tanaman masih muda). Pada fase generatif (tanaman mulai membentuk polong), kandungan Nitrogen sebesar 4,01 % pada daun muda yang sudah terbuka dianggap cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan polong kedelai.

Kamis, 11 Juli 2013

Ultisol

Posted by Unknown On 05.50 | No comments
Ultisol adalah salah satu jenis tanah yang jumlahnya menduduki peringkat ke 7 di muka bumi. Ultisol diklasifikasikan dengan elemen formatifnya berupa awalan ult  yang berasal dari bahasa latin Ultimus yang artinya terakhir. Dinamai ultisol karena tanah ini merupakan tanah yang mengalami pelapukan yang paling hebat dan lama dan mengalami pengaruh luar seperti pencucian atau leaching yang paling terakhir.

Ultisol

Berdasarkan sistem klasifikasi tanah di tahun 1949, ultisol meliputi beberapa golongan tanah seperti Podzolik merah-kuning, Lateritic coklat-kemerahan, setengah bog (gambut), dan Glei humus rendah.  Golongan tanah tersebut berkembang di sekitar daerah yang beriklim tropis. Golongan tersebut memiliki sebuah horizon argilla. Horizon arigilla adalah horizon tanah liat putih atau white clay yang memiliki kandungan liat dengan tingkat kejenuhan alkalin lebih rendah dari 35%. Epipedon atau horizon permukaannya berwarna merah sampai dengan kuning yang menunjukan bahwa pada tanah tersebut terdapat akumulasi oksida besi yang hebat.

Ultisol terbentuk pada region permukaan lahan tua yang umumnya terdapat di bawah hutan nabati. Kumpulan atau sub order ultisol antara lain:
  1. Xerult berarti ultisol yang kering (Xer bahasa Yunani yang berarti kering),
  2. Humult berarti ultisol dengan kandungan bahan organik yang tinggi (Hum bahasa Yunani yang berarti humus bumi),
  3. Udult berarti ultisol di daerah lembab (Ud bahasa latin yang berarti udus, basah, atau lembab),
  4. Aquult berarti ultisol yang dekat dengan sumber air dan sifat-sifatnya juga dipengaruhi oleh keadaan air (Aqu bahasa lati yang artinya air),
  5. Ustult berarti ultisol yang biasa berada di musim panas yang kelewat panas (Ust berasal dari bahasa Latin yang atrinya terbakar).

Penyebaran ultisol terdapat di sekitar Australia Tenggara sedangkan penyebaran sub ordernya seperti Udult terdapat di sekitar Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, hingga China) dan Amerika Selatan (Paraguay, Uruguay, dan Brazil bagian Selatan). Dengan pemupukan dan ameliorasi, tanah-tanah ultisol yang diketahui memiliki tingkat produktivitas rendah menjadi memiliki produktivitas yang tinggi bahkan melebihi tingkat produktivitas tanah Mollisol dan Alfisol di Amerika Serikat.

Rabu, 10 Juli 2013

Keberadaan mikroorganisme di dalam tanah sangat penting karena peranannya dalam mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah. Peranan tersebut antara lain mendaur ulang unsur hara, penyimpanan sementara, dan pelepasan unsur hara yang dipergunakan oleh tanaman. Mikroorganisme tanah dapat diibaratkan sebagai koki pada sebuah restoran, sedangkan bahan organik sebagai bahan baku masakan dan tanaman sebagai pelanggannya. Oleh sebab itu keberadaan serta jumlah mikroorganisme tanah sangat mempengaruhi kesuburan lahan pertanian disamping jumlah bahan organik yang terdapat dalam tanah, sehingga kedua komponen tersebut menjadi parameter dalam pengukuran kesuburan lahan pertanian. Mikroorganisme tersebut melepaskan  asam yang mampu melarutkan mineral, sehingga unsur hara yang terlarut dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Mikroorganisme yang lain mempunyai peranan dalam menambat nitrogen dari udara yang selanjutnya tersedia untuk tanaman. Masih banyak peranan mikroorganisme lainnya seperti dekomposisi bahan organik dan pembentukan senyawa baru. Di dalam tanah terdapat berbagai jenis mikroorganisme yang menguntungkan. Di samping itu, juga terdapat berbagai jenis mikroba penyebab penyakit bagi tanaman.

Mikroorganisme Tanah sebagai Pupuk Hayati

Pupuk hayati atau biofertilizer pada dasarnya adalah mikroorganisme tertentu yang secara alamiah mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur-unsur hara bagi tanaman. Mikroorganisme tersebut diperoleh dengan cara isolasi dari alam yang kemudian diperbanyak di laboratorium dan kemudian dapat dipakai sebagai bahan pupuk hayati.

Kebutuhan pupuk hayati
Nitrogen dan fosfat merupakan unsur hara yang paling banyak dibutuhkan oleh tanaman dan merupakan pembatas  pertumbuhan dan hasil tanaman. Sampai saat ini permasalahan yang dihadapi dalam program pemupukan adalah efektifitasnya yang rendah, meskipun demikian kebutuhan pupuk N dan P dari tahun ke tahun terus bertambah. Permasalahan lain yang muncul akibat pemakaian pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan turunnya kesuburan lahan. Oleh sebab itu untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan (demand) dan pasokan (supply), serta untuk mengembalikan kesuburan tanah.

Pupuk hayati merupakan alternatif bagi petani untuk memanfaatkan  pasokan N dari udara yang cukup besar  dan memanfaatkan bentuk P tak tersedia menjadi bentuk P tersedia.

Jenis pupuk Hayati
Pupuk hayati yang mengandung mikroorganisme tertentu dalam jumlah besar dan mampu menyediakan hara serta membantu pertumbuhan tanaman dengan harga yang murah akan menjadi harapan petani untuk meningkatkan pendapatan. Pupuk hayati dapat diterima sebagai pupuk ramah lingkungan karena tidak berdampak negatif terhadap tanah, tanaman maupun kesehatan manusia. Jenis pupuk hayati yang banyak dikembangkan merupakan pemasok unsure hara makro khususnya nitrogen dan fosfor.

Senin, 08 Juli 2013

Entisol

Posted by Unknown On 09.35 | No comments
Entisol adalah jenis tanah baru yang belum terbentuk secara sempurna dan masih menunjukan bahan asal pembentukannya berupa bahan induk. Entisol menempati urutan ke enam terbanyak dari jenis tanah lainnya di permukaan litosfer bumi. Berdasarkan system klasifikasi tanah, golongan tanah yang termasuk ke dalam jenis entisol antara lain tanah alluvial, lithosol, regosol gunung, dan regosol pantai.

Entisol

Horizon pada tanah entisol umumnya belum tampak jelas karena proses pelapukan batuan belum berjalan dengan sempurna. Hal ini dapat dilihat pada tanah-tanah alluvial yang terdapat di daerah alluvium yang masih menunjukkan penampang aslinya. Keadaan tekstur tanah pada tanah entisol bergantung pada beberapa faktor seperti akumulasi dan proses transportasi. Kendati demikian, biasanya tekstur tanah entisol bertekstur kasar jika berada didekat aliran air (sungai) dan bertekstur halus jika berada di tempat yang jauh dari aliran air sungai.

Kumpulan tanah yang tergolong dalam tanah entisol adalah secara berturut-turut sebagai berikut:
  1. Aquent, Aqu a + ent isol, aqu (aqua) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah air. Hal ini dapat diartikan bahwa tanah aquent banyak berkaitan dengan air.
  2. Arent, Ar are  + ent isol, ar (arare) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah membajak. Hal ini dapat diartikan bahwa tanah arent sering mengalami pengolahan tanah sehingga terjadi percampuran horizon. Fluent, Fluv ius + ent isol, fluv (fluvius) berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah sungai. Hal ini dapat diartikan bahwa tanah fluent terbentuk pada daerah yang tergenang air.
  3. Orthent, Orth os + ent isol, orth (orthos) berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah benar. Hal ini dapat diartikan bahwa tanah orthent adalah tanah entisol biasa.
  4. Psamment, Psamm os + ent isol, psamm (psaammos) berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah air. Hal ini dapat diartikan bahwa tanah psamment merupakan tanah entisol yang bertekstur pasir.

Sabtu, 06 Juli 2013

Bintil akar tanaman legume yang sehat pada umumnya berwarna merah darah seperti haemoglobin. Warna merah darah tersebut disebabkan oleh pigmen warna yang mengandung besi (Fe). Pigmen ini biasa disebut leghaemoglobin (LHb). Pada tanaman legume yang tidak sehat, bintil akar berwarna putih karena tidak memiliki pigmen leghaemoglobin. Bintil akar tersebut tidak memiliki kemampuan menambat nitrogen dari atmosfer.

Pigmen leghaemoglobin pada bintil akar memiliki banyak fungsi dalam kaitannya dengan penambatan nitrogen dari atmosfer oleh bakteri. Fungsi tersebut antara lain:
  1. Sebagai fasilitator pengambilan oksigen oleh enzim oksidase terminal
  2. Meningkatkan produksi ATP untuk aktivitas nitrogenase   
  3. Menciptakan suasana anaerob di sekitar aktivitas nitrogenase melalui pengikatan oksigen dan membentuk oxyhaemoglobin (OLHb).


Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut, LHb dapat membantu proses respirasi bakteri dan menyediakan ATP yang digunakan dalam penambatan nitrogen, selain itu LHb juga dapat melindungi komplektisitas aktivitas nitrogenase dari pengaruh oksigen. Konsentrasi LHb dalam bintil akar juga dapat digunakan untuk memperkirakan efisiensi dan efektivitas penambatan nitrogen yang dilakukan oleh bintil akar.

Penambatan nitrogen dari atmosfer dapat dilakukan selain karena adanya ATP sebagai energi, juga karena adanya ion hidrogen yang diperoleh dari reduksi air oleh enzim nitrogenase berupa protein Mo-Fe atau enzim nitogenase berupa protein Fe. Penambatan nitrogen yang dilakukan oleh bakteri pada bintil akar dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut.

N2 + 16 ATP + 8e- +10 H+  ---> 2NH4+ + H2+ + 16ADP +16P

Amoniak adalah produk tetap atau stabil pertama yang terbentuk dari proses penambatan nitrogen yang dilakukan oleh bakteri. Amoniak tersebut  kemudian ditransfer melalui memban bakteroid ke sel tanaman untuk kemudian digunakan dalam metabolisme tanaman.

Mikoriza Vesikular-Arbuskular (MVA) adalah suatu fungi yang bersifat non-patogenik dan dapat berasosiasi dengan kelompok tumbuhan tertentu. Secara umum, asosiasi mikoriza dengan tanaman ada 3 macam yaitu:
  1. Ektomikoriza adalah asosiasi mikoriza dengan membentuk selubung miselium di sekitar akar tanaman
  2. Endomikoriza adalah asosiasi mikoriza dengan menginvasi akar tanaman,
  3. Ectendomikoriza adalah asosiasi mikoriza yang terbentuk karena infeksi jamur ectotropic pada tanaman, dalam hal ini hifa terkumpul dalam sel kortex sehingga menunjukan kemiripan seperti endomikoriza dan ektomikoriza.

Tanaman-tanaman yang memiliki jumlah akar yang terbatas akan memiliki kesulitan dalam menyerap unsur phospat dari tanah. Keadaan tersebut menyebabkan tanaman cenderung membentuk asosiasi dengan mikoriza. Asosiasi mikoriza sangat penting dalam pertanian karena dapat membantu tanaman dalam menyerap phospat dari tanah.

Hifa mikoriza mampu menyebar dari miselium yang ada dalam akar hingga daerah rhizosfer yang cukup jauh. Selain mengikat phospat, mikoriza juga memiliki kemampuan mengikat beberapa unsur mikro seperti tembaga (Cu) dan seng (Zn) dari tanah.Tanaman yang berasosiasi dengan mikoriza diketahui juga mempunyai kandungan hormon pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tidak berasosiasi dengan mikoriza. Mikoriza mampu meningkatkan toleransi tanaman terhadap cekaman air atau kekeringan.

Mikoriza bersifat simbion obligat yang tidak dapat ditumbuhkan pada media yang terpisah dati tanaman inangnya. Oleh karena itulah, proses penyiapan inokulan mikoriza juga berbeda dengan proses pembuatan inokulan lainya dalam kegiatan pembuatan pupuk hayati. Beberapa tanaman yang dapat dijadikan inang dalam pembuatan inokulan antara lain jagung, bawang, sorgum, dan lain-lain.

Inokulan (spora) mikoriza yang difungsikan sebagai starter diperoleh dengan mengisolasinya dari penyaringan tanah yang diketahui mengandung mikoriza. Inokulan yang diperoleh kemudian disterilisasi menggunakan chloramin T dan streptomisin. Setelah disterilisasi, inokulan kemudian dicuci menggunakan air steril (aquades) untuk selanjutnya di inokulasikan pada media tumbuh berupa campuran tanah steril dan pasir dengan perbandingan 1:1.  Media tumbuh yang telah diinokulasi mikoriza kemudian dimasukan ke dalam pot dan ditanami bibit tanaman inang.

Penyiapan kultur mikoriza, saat ini juga dapat dilakukan tanpa menggunakan tanah sebagai media.  Penyiapaan kultur mikoriza tanpa media tanah dilakukan menggunakan bahan seperti gambut, pasir, vermicullite, pasir, kulit kayu, dan lain sebagainya. Penyiapan kultur mikoriza tanpa media tanah diketahui dapat menurunkan risiko terbawanya mikroba tanah yang bersifat merugikan.
Azolla adalah suatu jenis tanaman paku-pakuan yang tumbuh di permukaan air yang bersih. Azola diketahui memiliki 6 spesies yang antara lain Azola nilotica, A. caroliniana, A.mexicana, A. microphylla, A. pinata, dan A. filculoides. Secara umum azola berkembang biak dan memperbanyak diri secara vegetatif alami. Azola adalah tanaman yang berbatang dan bercabang banyak yang mengambang di permukaan air, akarnya tumbuh di dalam air, sedang daunnya tumbuh berselang-seling pada batangnya.

Penggunaan Azolla sebagai Pupuk Hayati

Azola dapat digunakan sebagai pupuk hayati karena memiliki mikroorganisme simbion yakni Anabaena azollae yang mampu menambat nitrogen dari atmosfer. A. azollae selalu ada di setiap tahapan pertumbuhan tanaman azola. 

Penggunaan azola sebagai pupuk hayati dapat dilakukan dengan 2 cara, yang antara lain:
1.  Mengaplikasikannya sebelum penanaman padi
Aplikasi azola sebelum penanaman padi dilakukan dengan menumbuhkannya terlebih dahulu diareal sawah yang tergenang selama 2 sd 3 minggu, untuk kemudian sawah dikeringkan dan azola dibenamkan ke dalam tanah. Setelah seminggu kemudian, padi kemudian ditanam.

2.  Menumbuhkannya bersama penanaman padi
Aplikasi azola bersamaan dengan penanaman padi dilakukan dengan menumbuhkannya setelah seminggu penanaman padi. Dengan dosis kurang lebih 0,1 sd 0,5 kg/m3. Setelah azola tumbuh, air pada sawah kemudian dikeringkan dan azoala dibenamkan ke dalam tanah.
Untuk meningkatkan pertumbuhannya, azola perlu dipupuk menggunakan pupuk fosfat seperti SP 36 atau TSP dengan dosis 4 sd 8 kg P2O5 per hektar. Untuk mengatur pH agar mencapai 8,0 lahan penanaman azola perlu di kapur menggunakan dolomit atau kapur pertanian lainya (kaptan). Sedang untuk mencegah serangan serangga parasit yang dapat merusak dan menghampat pertumbuhan azola perlu diaplikasikan karbofuran.
Simbiosis antara rhizobium dengan legume dicirikan oleh pembentukan stuktur bintil akar pada tanaman inang. Pembentukan bintil akar tersebut diawali dengan sekresi produk metabolisme tanaman ke daerah perakaran yang menstimulasi pertumbuhan bakteri. Stimulasi tersebut tidak hanya terjadi pada rhizobium melainkan juga terjadi juga pada bakteri lain yang ada di daerah sekitar perakara (rhizosfer).Jika di daerah rhizosfer terdapat bakteri rhizobiummaka bakteri tersebut akan tumbuh mencapai kerapatan sel yang tinggi. Secara umum, tahapan pembentukan bintil akar pada tanaman legum terjadi melalui beberapa tahapan yang antara lain:


  1. Pengenalan pasangan yang kompatibel antara tanaman dengan bakteri yg diikuti oleh pelekatan bakteri rhizobium pada permukaan rambut akar tanaman.
  2. Invasi bakteri pada rambut akar melalui pembentukan benang infeksi [infection thread].
  3. Perjalanan bakteri menuju akar utama melalui benang infeksi.
  4. Pembentukan sel-sel bakteri yang mengalami devormasi, yang disebut sebagai bakteroid,di dalam sel tanaman.
  5. Pembelahan sel pada tanaman dan bakteri sehingga terbentuk bintil akar.

Melekatnya rhizobium pada akar terjadi karena permukaan rhizobium dan bradyrhizobium mengandung protein pelekat yang disebut rhicadhesin. Rhicadesin adalah protein pelekat kalsium yang berfungsi dalam pengikatan kompleks pada permukaan rambut akar. Di samping itu, terdapat senyawa lain yang berperan dalam pengikatan bakteri yaitu lectin yang merupakan protein yang mengandung karbohidrat.

Penetrasi awal sel bakteri ke rambut akar dimulai dengan melekatkan dirinya pada ujung rambut akar. Setelah melekat, ujung rambut akar tersebut akan menggulung karena karena bakteri mengeluarkan senyawa yang disebut senyawa faktor dot. Senyawa faktor dot tersebut diketahui dapat menstimulasi pembelahan sel tanaman dan terbentuklah bintil akar. Bakteri kemudian memasuki rambut akar dan kemudian menginduksi pembentukan benang infeksi yang berupa tabung selulosa. Bakteri tersebut kemudian tumbuh ke arah sel-sel tanaman yang terdapat dalam akar.

Bakteri yang hidup dalam akar tersebut kemudian dengan cepat berkembang dan mengalami perubahan struktur menjadi bercabang atau biasa disebut bakteroid. Bakteroid tersebut dikelilingi oleh membran sel tanaman yang disebut membran peribakteroid.

Kamis, 20 Juni 2013

Jenis dan Cara Pemakaian Pupuk Daun

Posted by Unknown On 09.15 | No comments
Jenis-Jenis Pupuk Daun

Pupuk daun saat ini, sudah menjadi pupuk yang akrab dengan petani. Hal ini karena beberapa keuntungan pupuk daun sudah dirasakan berguna bagi keberlangsungan usaha budidaya pertanian. Di pasaran, pupuk daun diperdagangkan dengan bentuk dan jenis yang bermacam-macam. Jika tidak jeli, kita akan dibuat bingung dalam menentukan pilihan produk pupuk daun mana yang akan dibeli.

Pupuk daun dipasaran dijual dengan 2 fase, yakni pupuk daun padat dan pupuk daun cair. Pupuk daun cair berupa cairan pupuk pekat yang diencerkan untuk kemudian disemprotkan ke daun tanaman. Contoh sederhana pupuk daun cair di pasaran adalah pupuk Metalik, Bayfolan dan Biolan. Sedangkan pupuk daun padat adalah pupuk daun yang berupa kristal halus dan atau tepung yang dalam aplikasinya juga diencerkan terlebih dahulu menggunakan pelarut untuk kemudian diseprotkan ke tanaman. Contoh sederhana pupuk daun padat di pasaran adalah pupuk Gandasil, Growmore, dan Gandapan.

Berdasarkan bahan pembentuknya, pupuk daun juga dibagi ke dalam 2 jenis. Pertama adalah pupuk daun yang dibuat dari bahan anorganik dan yang kedua adalah pupuk daun yang dibuat dari bahan organik. Pupuk daun anorganik biasanya tersedia banyak jumlah dan jenisnya di toko obat. Pupuk daun organik dapat diproduksi sendiri dari bahan-bahan anorganik seperti air seni hewan yang telah difermentasi, ekstraksi limbah organik, dan lain-lain.

Berdasarkan kandungan haranya pupuk daun dibagi ke dalam 3 jenis, yakni pupuk daun yang mengandung hara makro, pupuk daun yang mengandung hara mikro, dan pupuk daun yang mengandung hara makro dan mikro secara bersamaan.

Jenis dan Cara Pemakaian Pupuk Daun

Cara Pemakaian Pupuk Daun

Dalam mengaplikasikan pupuk daun ke tanaman, kita membutuhkan alat semprot atau sprayer agar kemudahan, efektivitas, dan efisiensi penggunaan pupuk ini dapat optimal.  Tidak seperti pupuk akar, aplikasi pupuk daun dilakukan dengan terlebih dahulu mengencerkan pupuk ini pada pelarut hingga konsentrasi tertentu yang telah dianjurkan. Pengenceran dilakukan di dalam sebuah wadah dan di aduk hingga merata sama seperti pengenceran yang dilakukan pada aplikasi pestisida. Setelah pupuk daun diencerkan dengan merata, larutan tersebut kemudian dimasukan ke dalam tangki semprot untuk kemudian di semprotkan ke daun tanaman.

Dalam kegiatan penyemprotan, ada satu hal yang umumnya tidak dipahami oleh petani. Hal tersebut adalah mengenai letak atau bagian daun yang disemprot. Kebanyakan petani mengaplikasikan pupuk daun dengan cara menyemprotkannya pada bagian daun yang menghadap ke atas. Hal ini dipilih karena dari segi aplikasinya, cara ini lebih mudah diterapkan. Padahal sebetulnya, untuk memperoleh hasil yang optimal dari pemupukan dengan pupuk daun, bagian daun yang disemprot adalah helaian daun yang menghadap ke bawah. Helaian daun yang menghadap ke bawah adalah bagian daun yang memiliki jumlah stomata yang terbanyak dan seperti yang kita ketahui bahwa pupuk daun diserap oleh tanaman melalui stomata yang terdapat di daun.

Pupuk Daun dan Kegunaannya

Posted by Unknown On 08.58 | No comments

Pupuk daun adalah pupuk yang diberikan ke tanaman melalui daun. Pupuk ini umumnya tergolong pupuk anorganik yang diproduksi dalam skala besar dari bahan-bahan anorganik. Dalam pengaplikasiannya pupuk ini terlebih dahulu diencerkan dalam pelarut dengan konsentrasi tertentu untuk kemudian di semprotkan ke tanaman.

Pupuk daun adalah pupuk yang diberikan ke tanaman melalui daun. Pupuk ini umumnya tergolong pupuk anorganik yang diproduksi dalam skala besar dari bahan-bahan anorganik. Dalam pengaplikasiannya pupuk ini terlebih dahulu diencerkan dalam pelarut dengan konsentrasi tertentu untuk kemudian di semprotkan ke tanaman.

Pupuk daun lebih mudah diserap oleh tanaman jika dibandingkan pupuk akar karena stomata pada daun lebih responsif dalam menyerap unsur hara yang terlarut di dalam pelarut yang disemprotkan ke daun. Tidak seperti akar yang membutuhkan waktu yang lama dalam penyerapan unsur hara karena beberapa hal seperti unsur hara yang terkandung dalam pupuk belum terurai dan menjadi tersedia, letak akar dan pupuk saling berjauhan, fiksasi unsur hara oleh beberapa mikroorganisme dan kation tanah, pupuk terleaching oleh air hujan, penguapan, dan lain-lain.

Keuntungan lain dari penggunaan pupuk daun adalah kandungan unsur mikro yang ada padanya. Seperti diketahui bahwa unsur hara mikro seperti Zn, Mn, Fe, dan lain sebagainya sangat dibutuhkan oleh tanaman meski dalam jumlah yang sedikit. Meski sangat dibutuhkan, petani seringkali tidak memperhatikan ketersediaannya bagi tanaman dan apa mau dikata pupuk akar yang sering diberikan hanya menyediakan unsur hara makro saja seperti N, P, K, Mg, dan lain-lain. Dengan penggunaan pupuk daun, masalah tersebut akan secara langsung teratasi.

Pupuk daun juga dapat memberikan unsur hara dengan jumlah dan jenis yang sesuai seperti yang dibutuhkan tanaman. Dengan kelarutannya yang tinggi, pupuk daun lebih mudah diserap dan ditranslokasikan oleh tanaman untuk pertumbuhannya. Karena penyerapannya yang mudah itulah kemudian efek penggunaan pupuk ini lebih cepat terlihat dibandingkan penggunaan pupuk akar. Pupuk daun juga dalam aplikasinya dapat lebih merata karena dalam penggunaannya yang menggunakan alat semprot.

Kendatipun memiliki banyak keuntungan, pupuk daun juga memiliki beberapa kerugian seperti biayanya yang cenderung lebih mahal dibandingkan pupuk akar, diperlukan keterampilan dan alat khusus dalam aplikasinya, dan lebih mudah menguap jika diaplikasikan pada waktu aplikasi yang tidak tepat.

Selasa, 18 Juni 2013

Pupuk Hayati Pemasok Unsur Nitrogen

Posted by Unknown On 05.34 | No comments
Atmosfer mengandung nitrogen dalam jumlah besar (78 %). Terdapat jenis bakteri di alam yang memiliki kemampuan menambat nitrogen (N) udara yang selanjutnya diubah menjadi bentuk yang tersedia bagi tanaman. Bakteri tersebut ada yang hidup bebas (non simbiosis) dan ada yang hidup bersimbiosis dengan tanaman. Saat ini mikroorganisme yang banyak dimanfaatkan untuk pupuk hayati diantarnya Rhizobium, Azospirillum dan Azotobacter.



Rhizobium
Diantara bakteri yang bermanfaat, Rhizobium yang paling banyak digunakan untuk pupuk hayati. Koloni Rizobium bersimbiosis dengan akar tanaman legum membentuk bintil akar yang berperanan dalam penyematan nitrogen.  Rhizobium yang bersimbiosis dengan akar legum mampu menyemat nitrogen 100-300 kg N / ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya.  Permasalahn yang perlu diperhatikan sangan dipengaruhi oleh jumlah bakteri Rhizobium yang ditambahkan dan jenis tanaman legum.
Biakan rhizobium isolasi dari bintil akar tanaman legum, kemudian dipilih strain yang efisien dan dikembang biakkan dilaboratorium. Biakan murni Rhisobium ini kemudian dipergunakan sebagai bibit dalam pembuatan pupuk hayati dengan menggunakan media tumbuh tanah gambut.

Azospirillium sp
Azospirillum mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan sebagai pupuk hayati. Bakteri ini banyak diketahui mampu berasosiasi dengan tanaman jenis rumput-rumputan, termasuk beberapa jenis serealia seperti jagung, cantle, gandum. Ada tiga jenis bakteri yang dikembangkan sebagai pupuk hayati dari spesies ini yakni, Azospirillum brasiliense , Azospirillum lipoferum dan Azospirillum amazonense. Infeksi yang disebabkan bakteri Azospirillum tidak menyebabkan perubahan morfologi perakaran, sebaliknya dapat meningkatkan jumlah akar rambut , sehingga lebih efektif dalam penyerapan unsur hara. Disamping potensi menambat nitrogen dari udara Azospirillum juga dapat mengefisienkan penyerapan nitrogen dan menurunkan jumlah kehilangan nitrogen akibat pelindihan serta kehilangan akibat denitrifikasi.

Azotobacter
Azotobacter spp termasuk bakteri non simbiosis yang hidup disekitar perakaran. Dijumpai hampir pada semua jenis tanah tetapi populasinya relatif rendah. Selain kemampuannya menambat nitrogen, bakteri ini juga mampu menghasilkan sejenis hormon pertumbuhan dan mampu menghambat pertumbuhan jenis jamur tertentu. Ada dua pengaruh positif Azotobacter terhadap pertumbuhan tanaman yakni, mempengaruhi perkecambahan benih dan memperbaiki pertumbuhan tanaman.

Pupuk Hayati Pemasok Unsur Fosfor

Posted by Unknown On 04.38 | No comments
Terdapat beberapa jenis mikroorganisme yang cukup penting dalam memanfaatkan fosfat yang ada di dalam tanah. Mikroorganisme yang berperan dalam penyediaan hara fosfat berasal dari dua kelompok mikroorganisme yakni bakteri dan fungi.

Pupuk Hayati Pemasok Unsur Fosfor


Bakteri Pelarut Fosfat

Kebanyakan tanah-tanah di wilayah tropis yang memiliki pH rendah memiliki kekahatan hara fosfat. Sebagian besar bentuk fosfat terikat dalam koloid tanah, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Superfosfat yang diberikan pada kegiatan pemupukan hanya 25 % yang diserap tanaman, sedangkan jumlah 75 % diikat oleh tanah.

Terdapat beberapa jenis bakteri dan fungi yang mampu mengubah P tak larut menjadi senyawa yang larut, sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroorganisme yang dimksud adalah Bacillus polymyxa , Pseudomonas striata, Aspergillus awamori, dan Penisillium digitatum.

Micorrhiza 

Micorrhiza merupakan jenis fungi yang hidup bersimbiose dengan perakaran tanaman dan membantu dalam penyerapan fosfat. Keberadaan Micorrhiza dapat menekan kebutuhan pupuk P hingga 30 %. Mikoriza dari jenis Pisolitus, Laccaria, Amanita, Scleroderma, Rrussula dan Tricholomu mampu berasosiasi dengan jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam famili Pinaceae, Batulacea dan Fagacea. Fungi jenis ini dapat memperluas  permukaan akar sehingga tanaman dapat menyerap P lebih banyak serta dapat melindungi akar dari serangn patogen.

Ectomicorrhiza  
Fungi jenis ini berasosiasi dengan tanaman jenis pohon seperti pinus, eukaliptus. Banyak terdapat dihutan-hutan subtropics. Infeksi ectomicorrhiza dimulai dari spora di perakaran tanaman yang kemudian tumbuh menjadi hifa yang menutupi seluruh perakaran serabut tanaman inang. Ectomicorrhiza sulit dibiakkan di laboratorium.

Prinsip Pembuatan Kompos

Posted by Unknown On 04.00 | No comments
Prinsip pembuatan kompos adalah dengan menumpuk berbagai bahan organik dalam susunan sedemikian rupa sehingga terjadi proses penguraian atau dekomposisi oleh mikroba pengurai. Kecepatan penguraian atau dekomposisi bahan kompos dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan antara lain :

Kompos adalah

Kelembaban
Kelembaban selama proses pengomposan dipertahankan dalam kondisi cukup lembab dengan ciri bila bahan dipegang terasa seperti cucian baju yang baru diperas (kondisinya basah, tetapi tidak keluar air walaupun diperas). Kelembaban yang terlalu rendah akan menghentikan proses dekomposisi bahan oleh mikroorgaisme pengurai dan jika terlalu tinggi akan mengakibatkan pemadatan bahan serta terjadinya dekomposisi secara (anaerob tanpa Oksigen). Hal ini karena ruang pori bahan terisi air dan terjadi kekurangan Oksigen sehingga timbul bau busuk pada bahan dan proses dekomposisi menjadi lambat.

Sirkulasi udara
Sirkulasi udara mempengaruhi pasokan Oksigen untuk mikrooganisme pengurai (terutama bakteri dan fungi/jamur) dalam proses dekomposisi. Sirkulasi udara tersebut biasanya dipengaruhi berat bahan, frekuensi pembalikan bahan, dan ketinggian timbunan bahan yang diatur sedemikian rupa agar proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat.

Suhu
Suhu optimum untuk menujang proses dekomposisi dan pertumbuhan mikroorganisme pengurai berkisar antara 60-70 derajat Celcius. Suhu timbunan bahan dapat diatur dengan pembalikan bahan terlalu periodik karena apabila suhu bahan terlalu tinggi akan mematikan mikroorganisme pengurai sehingga proses dekomposisi terhenti. Sedangkan suhu yang terlalu rendah kurang optimum untuk pertumbuhan mikroorganisme pengurai sehingga proses dekomposisi menjadi lambat.

Secara umum, teknik pembuatan kompos berdasarkan cara pengomposannya dibedakan menjadi 2 cara yaitu :

Pengomposan tanpa penambahan mikroorganisme pengurai
Teknik membuat kompos dengan cara ini pada dasarnya hanya menumpukkan bahan-bahan organik dan membalik-balikkannya secara periodik. Pembalikan secara periodik ini bertujuan untuk mempercepat proses peguraian atau dekomposisi oleh mikroorganisme pengurai. Waktu yang dibutuhkan sampai terbentuknya kompos dengan cara tanpa penambahan mikroorganisme pengurai tersebut cukup lama, yaitu antara 2-6 bulan.

Pengomposan tanpa penambahan mikroorganisme pengurai
Teknik membuat kompos dengan cara ini pada dasarnya sama dengan cara pertama juga perlu pembalikan secara periodik tetapi ada penambahan mikroorgnisme pengurai. Adanya penambahan mikroorganisme pengurai terutama EM4 (Effective Micorganism) ini dapat membantu mempersingkat waktu pembentukan kompos menjadi >1 bulan. Selain itu kompos yang dihasilkanpun masih mengandung mikroorganisme pengurai sehingga menambah kesuburan tanah dan jumlah pemberiannya ke tanaman juga tidak sebanyak kompos dengan cara pertama.

Selasa, 11 Juni 2013

Kondisi Jenuh Air

Posted by Unknown On 12.00 | No comments
Kondisi jenuh air adalah kondisi dimana tanah sudah tidak mampu lagi menampung air ke dalam porinya. Contoh sederhananya adalah ketika kita menuangkan air ke dalam pot bunga dalam jumlah yang berlebih, sebagian air akan keluar melalui lubang yang ada di bagian bawah pot. Ketika itulah kondisi tanah di dalam pot disebut dengan kondisi jenuh air. Pada kondisi ini, hampir semua pori tanah diisi oleh air, sedangkan udara terdesak keluar dari pori tanah.

Kondisi Jenuh Air

Pada umumnya kondisi jenuh air tidaklah dikehendaki oleh sebagian besar tanaman, kecuali tanaman-tanaman yang memang habitatnya di air atau di rawa. Kondisi jenuh air tak jarang menimbulkan kerugian bagi tanah maupun tanaman. Kerugian-kerugian tersebut antara lain :
  1. Menyebabkan kandungan udara dalam tanah maupun sirkulasinya terhambat sehingga akar tanaman kekurangan oksigen.
  2. Memperlambat adsorbsi unsur hara oleh akar tanaman.
  3. Menekan pertumbuhan mikroorganisme tanah yang bersifat aerob.
  4. Menimbulkan zat-zat kimia yang dapat meracuni tanaman seperti metana (CH4), N2 berlebih, Fe++, dan Mn++.
  5. Memperlambat dekomposisi bahan organik tanah.

Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman

Posted by Unknown On 03.00 | No comments
Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, tanah adalah tempat atau media dimana akar tanaman tumbuh dan menyerap air juga unsur hara. Tanah tersusun dari 4 komponen utama yang antara lain bahan mineral, bahan organik, air, dan udara.ke-empat bahan tersebut bersatu untuk kemudian membentuk agregat tanah. Agregat yang terbentuk didalamnya pastilah terdapat ruang pori yang dapat ditempati oleh air dan udara. Ruang pori tersebut dalam istilah ilmu tanah dikenal dengan istilah pori tanah. Pori tanah yang berukuran kecil disebut pori mikro, sedangkan yang berukuran besar disebut pori makro.

Hubungan Air, Tanah, dan Tanaman

Air dan udara di dalam tanah sangat membantu pertumbuhan tanaman, karena seperti kita ketahui bahwa tanaman dalam berfotosintesis memerlukan ke dua dzat tersebut. Kendatipun demikian, keberadaan air dan udara didalam tanah saling bersifat komplemen dan sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanah yang mengandung banyak air memiliki kandungan udara yang sangat sedikit karena hampir semua pori tanah diisi oleh air. Begitupun sebaliknya, tanah yang mengandung banyak udara akan memiliki kandungan air yang sedikit pula. Komposisi air dan udara dalam menempati pori tanah haruslah berimbang sesuai dengan kebutuhan jenis tanaman yang ditanam.

Dalam kaitannya dengan budidaya pertanian, hubungan keterikatan antara air dan udara di dalam tanah mengenal 3 istilah penting yang antara lain:
  1. Kondisi jenuh air
  2. Kondisi kapasitas lapang
  3. Kondisi titik layu permanen

Senin, 10 Juni 2013

Kapasitas Lapang pada Tanah

Posted by Unknown On 05.42 | No comments
Kapasitas lapang adalah kondisi ketika komposisi air dan udara di dalam tanah berimbang. Kondisi ini dapat kita lihat seperti pada contoh pot yang telah disiram air hingga jenuh yang mengentaskan semua air hingga tak ada lagi air yang keluar dari lubang yang terdapat pada bagian bawah pot. Hampir semua tanaman menyukai tanah pada kondisi kapasitas lapang.

Kapasitas Lapang

Dalam kondisi kapasitas lapang, udara menempati pori makro tanah sedangkan air hanya terdapat dalam pori mikro tanah. Air yang terdapat dalam pori mikro tanah tersebut dikenal dengan istilah air tersedia atau air perkolasi. Air tersedia adalah air yang dapat diambil oleh tanaman, terdapat di antara kondisi kapasitas lapang dan kondisi titik layu permanen. Air tersedia berbentuk larutan yang mengandung berbagai unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Kemampuan tanah untuk menyimpan air tersedia sangat dipengaruhi oleh struktur pembentuk tanah tersebut yakni liat, lempung, dan pasir.

Struktur tanah yang liat merupakan struktur tanah yang mampu menyimpan air tersedia dalam jumlah yang paling banyak. Sedangkan struktur tanah yang pasir merupakan struktur tanah yang hanya mampu menyimpan air tersedia dalam jumlah yang sedikit. Untuk memperoleh tanah yang baik untuk pertumbuhan, kebanyakan petani melakukan manipulasi iklim mikro tanah dengan mencampurkan tanah struktur liat, pasir, dan kompos dengan perbandingan tertentu.

Titik Layu Permanen

Posted by Unknown On 05.25 | No comments
Air di dalam tanah dapat berkurang karena adanya evaporasi (penguapan), perkolasi, dan penyerapan air oleh akar tanaman. Bila dalam jangka waktu tertentu tidak ada penambahan air ke dalam tanah baik itu oleh hujan maupun irigasi, tanah akan segera mengering dan menunjukkan dampak negatif pada pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan. Pengaruh negatif tersebut tak lain adalah kekeringan tanaman.

Titik Layu Permanen

Dampak negatif berupa kekeringan tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui beberapa tahapan yakni pertama tanaman akan mengalami kondisi layu sementara, artinya ketika siang hari tanaman akan terlihat layu sedangkan ketika malam menjelang, tanaman akan kembali segar. Kondisi layu sementara jika dibiarkan akan mengakibatkan tanaman mengalami kondisi layu permanen, artinya tanaman akan tetap layu hingga mengering dan meski diberikan air tanaman tidak akan kembali segar.

Sabtu, 08 Juni 2013

Pupuk Magnesium

Posted by Unknown On 00.00 | No comments
Pupuk magnesium adalah pupuk tunggal yang mengandung hara MgO yang sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sifat kimia tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Di pasaran pupuk ini dapat dijumpai dalam 2 jenis yaitu pupuk kieserit dan pupuk dolomit. Penggunaan keduanya umumnya diaplikasikan untuk meningkatkan derajat keasaman (pH) tanah pada lahan budidaya. Pupuk ini juga lazim disebut sebagai kapur pertanian.

Kieserit dan Dolomit


Pupuk kieserit adalah pupuk magnesium yang dibuat sedemikian rupa dari bahan yang disebut brucit (Mg(OH)2) dan magnesit (MgCO3). Rumus kimia dari pupuk kieserit adalah MgSO4.H2O atau dalam bahasa lainnya disebut magnesium sulfat. Pupuk kieserit berbentuk hablur dengan warna putih keabu-abuan dan agak sulit larut dalam air. Pupuk kieserit mengandung 29% MgO dan 23% S. Kandungan S didalam kieserit menyebabkan pupuk ini kurang efektif jika diaplikasikan untuk tujuan pengapuran tanah.

Pupuk dolomit adalah pupuk magnesium yang diperoleh dengan menggiling batuan dolomit hasil penambangan. Pupuk dolomit memiliki rumus kimia yang cukup panjang, yakni CaCO3.MgCO3. Pupuk ini selain memiliki kandungan MgO sekitar 18% hingga 21%, juga memiliki kandungan CaO sebesar 40%. Karena kandungan Mg dan Ca nya yang tinggi, pupuk ini sangat cocok diaplikasikan untuk tujuan meningkatkan pH tanah. Kelarutannya yang cukup baik serta keberadaannya yang mudah diperoleh menyebabkan pupuk ini banyak diminati oleh petani kita.


Blogroll

About